-->

AMERIKA KEPUNG IRAN, RUSIA SIAGA


(Pasukan Rusia menyerbu Georgia tahun 2008)


Pelan namun pasti Amerika telah mengepung Iran dengan menggelar kekuatan militernya secara besar-besaran di sekitar negara Teluk tersebut. Dengan kekuatan militer yang dimilikinya Amerika mengklaim sanggup menghancurkan kekuatan militer Iran dalam waktu kurang dari 1 bulan.


Seorang pejabat komando militer Amerika di Teluk Parsia dan Asia Barat (CENTCOM) baru-baru ini mengatakan kepada media Amerika bahwa dengan kekuatan udara dan lautnya Amerika akan dapat menghancurkan kekuatan militer Iran dalam waktu kurang dari 3 minggu. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan kekuatan Iran, klaim-klaim yang dekeluarkan Amerika biasanya tidak terbukti, seperti klaim mereka untuk memenangkan perang Irak dan Afghanistan yang justru menjadi medan kekalahan mereka, padahal secara militer kedua negara tersebut jauh di bawah kekuatan Iran.

"Kami merencanakan setiap kemungkinan dan memberikan berbagai pilihan kepada Presiden. Kami mengambil panduan dari menteri pertahanan dan para pemimpin di Washington. Maka setiap panduan yang diberikan kepada kami menjadi dasar kami untuk bertindak," kata jubir CENTCOM Lt. Col. T.G. Taylor kepada "Washington Post" baru-baru ini.

Amerika saat ini telah menempatkan 2 kapal induknya di dekat Iran dan telah menambah kapal-kapal penyapu ranjaunya di kawasan Teluk Parsia. Satu kapal induk lagi, USS Enterprise telah berada di Laut Tengah untuk bergabung dengan 2 rekannya. Baru-baru ini Amerika juga telah menempatkan sejumlah besar pesawat tempur paling canggihnya, F-22 Raptor, di Uni Emirat Arab. Selain itu Amerika juga telah merencanakan mengirim kapal induk angkut USS Ponce ke Teluk Parsia.

Di darat Amerika telah mengintensifkan pelatihan satuan-satuan khusus negara-negara sekutunya di Teluk Parsia. Jumlah personil "Joint Special Operations Task Force-Gulf Cooperation Council" yang selama ini hanya menjadi instruktur setiap saat bisa ditambah dengan personil tempur. CENTCOM juga memiliki sekitar 125.000 pasukan di negara-negara sekitar Iran. Sebagian besar dari mereka yaitu berjumlah 90.000 telah berada di Afghanistan, 20.000 lainnya berada di negara-negara lainnya, dan antara 15.000 hingga 20.000 berada di kapal-kapal perang.


RUSIA SIAGA
Sementara itu menghadapi kemungkinan konflik militer Iran dengan Amerika Rusia telah menyiagakan militernya karena yakin konflik tersebut akan merembet ke kawasan-kawasan sekitarnya. Para ahli strategi Rusia yakin serangan militer terhadap Iran oleh Israel dan Amerika akan terjadi pada musim panas pertengahan tahun ini.

Rusia telah menyiagakan satuan-satuan militernya di kawasan Kaukasus. Satu divisi rudal telah disiap siagakan di Laut Kaspia. Kapal-kapal perang di Laut Kaspia disiagakan di lepas pantai Dagestan. Satu-satunya pangkalan militer Rusia di Kaukasus Selatan, Armenia, juga telah disiagakan. Para ahli percaya, dan hal ini dibenarkan oleh pernyataan para pejabat militer Rusia sendiri, bahwa Rusia akan berpihak pada Iran jika konflik militer terjadi, paling tidak dengan memberikan bantuan teknis selain suplai senjata.

Pada bulan April lalu Jendral Leonid Ivashov, Presiden Academy of Geopolitical Science" menyatakan bahwa “perang terhadap Iran akan menjadi perang bagi Rusia juga" dan ia menyerukan diadakannya persekutuan diplomasi-politik antara Rusia, Cina dan India. Menurut Ivashov ketidak stabilan dan ketegangan di kawasan Timur Tengah disebabkan oleh Amerika, dan ketidak stabilan tersebut selanjutnya akan diarahkan ke Rusia, Cina serta Eropa. "Perang terhadap Iran akan merembet ke perbatasan Rusia, menimbulkan ketidakstabilan di kawasan Kaukasus Utara dan melemahkan posisi Rusia di kawasan Kaspia."

Kawasan Kaukasus sendiri secara politik saat ini telah terpecah ke dalam 2 blok. Armenia kini menjadi satu-satunya sekutu Rusia dan juga menjalin hubungan ekonomi erat dengan Iran. Sementara Georgia dan Azerbaijan menjalin hubungan ekonomi dan militer erat dengan Amerika dan Israel. Georgia telah terlibat konflik militer dengan Rusia saat berupaya menganeksasi kawasan Ossetia Utara tahun 2008 yang digagalkan oleh invasi militer Rusia terhadapnya. Namun Rusia lebih mengkhawatirkan Azerbeijan yang berbatasan langsung dengan Iran, Rusia dan Armenia serta Laut Kaspia. Azerbeijan yang memiliki beberapa pangkalan militer Amerika dikhawatirkan Rusia akan melibatkan diri dalam konflik di Iran.

Iran sendiri memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan Azerbeijan. Iran berulangkali menuduh Azerbeijan bersekongkol dengan inteligen Amerika dan Israel dalam serangan-serangan teroris yang terjadi di Iran. Azerbeijan juga telah meningkatkan kemampuan militernya secara menyolok, bulan Februari lalu menandatangani pembelian senjata senilai $1,6 miliar dari Israel, mencakup pesawat tanpa awak dan rudal pertahanan udara (senjata-senjata tersebut adalah senjata-senjata bantuan Amerika untuk Israel tapi seperti biasa Israel menjualnya untuk keuntungan pribadi para pejabatnya).

Pada bulan Maret lalu jurnal "American Foreign Policy" mengutip keterangan pejabat militer Amerika menyatakan bahwa Israel telah membeli sebuah pangkalan udara dan pangkalan udara tersebut adalah Azerbeijan. "Para analis militer kini harus memperhitungkan skenario perang, yang tidak hanya mencakup Teluk Persia, namun juga Kaukasus."

Pemerintah Azerbeijan langsung membantah keterangan tersebut, namun editor media Azerbeijan "Neue Zeit", Shakir Gablikogly, mengingatkan bahwa Azerbaijan dapat terseret dalam perang melawan Iran.

Bahkan seandarinya Azerbeijan tidak menjadi titik awal konflik dengan Iran, negara tersebut menghadapi potensi konflik dengan tetangganya, Armenia, terkait status wilayah Nagorno-Karabakh.
Wilayah ini telah memisahkan diri dari Azerbeijan sejak berakhirnya perang sipil tahun 1994, namun pemerintah Azerbeijan dengan dukungan Amerika dan Uni Eropa mengklaim wilayah ini termasuk dalam wilayah Azerbeijan. Selama 2 tahun terakhir telah terjadi beberapa konflik militer antara Armenia dengan Azerbeijan. Konflik tersebut bisa saja membesar dan melibatkan Amerika, Rusia dan Iran.

Dalam wawancara dengan media Rusia, "Komsomolskaya Pravda", baru-baru ini pakar militer Rusia Mikhail Barabanov mengatakan bahwa konflik-konflik militer di negara-negara bekas UNi Sovyet dapat memicu konflik senjata antara Amerika-NATO dengan Rusia yang melibatkan senjata nuklir.

Karena letak strategisnya serta kekayaan alamnya kawasan Eurasia (sekitar pegunugan Kaukasusia) telah menjadi ajang perebutan pengaruh antara Amerika dengan Rusia paska runtuhnya Uni Sovyet. Azerbaijan, Georgia dan Armenia menjadi jembatan penghubungan antara kawasan kaya energi Asia Tengah dan Laut Kaspia di satu sisi dengan Eropa dan Laut Hitam di sisi lainnya. Amerika sangat aktif berupaya menancapkan pengaruh ekonomi dan militernya di kawasan tersebut sejak tahun 1990-an.

“Saya tidak ingat pernah lupa bagaimana suatu kawasan tiba-tiba saja menjadi begitu penting sebagaimana Kaspia," kata mantan wapres Amerika Dick Cheney kala menjadi eksekutif perusahaan minyak Amerika, Halliburton.

Salah satu langkah Amerika adalah membantu Mikhai Saakashvili meraih kursi presiden Georgia melalui "Revolusi Mawar" yang digerakkan agen-agennya tahun 2003. Lebih jauh Amerika-Israel membantu Georgia menganeksasi Ossetia Utara dalam rangka memperkuat pengaruh Amerika-Israel di kawasan tersebut tahun 2008. Namun paska kegagalan aneksasi tersebut karena intervensi Rusia yang secara spontan mengirimkan satuan militernya menyerbu Georgia, pengaruh Amerika semakin berkurang. Di sisi lain, Rusia yang berhasil memulihkan kondisi ekonomi dan politiknya, dan China, muncul sebagai kekuatan utama di kawasan tersebut dengan membangun aliansi bersama negara-negara kawasan Kazakhstan, Pakistan dan Iran. Rusia dan Cina, meski bersaing, melihat Amerika sebagai ancaman bersama dalam perebutan sumber-sumber alam Asia Tengah.

1 Response to " AMERIKA KEPUNG IRAN, RUSIA SIAGA "